Tuesday, May 29, 2007

Good Corporate Culture

Pada saat Ishadi SK (Dirut Trans TV) memberikan perkuliahan, ia bercerita di kelas bahwa di perusahannya ada budaya belajar dan mengajar antar karyawan Trans TV, karyawan yang lebih senior harus berbagi ilmu dengan karyawan junior yang baru bergabung, dan sebaliknya, karyawan junior yang pada beberapa hal lebih mengerti daripada karyawan senior mereka pun juga harus berbagi. Secara tidak langsung budaya tersebut menekan biaya training yang seharusnya ada di sebuah perusahaan. Sangat tepat sekali ketika Pak Ishadi mengangkat budaya "bertanya" sebagai Good Corporate Culture yang merupakan core dari sebuah korporasi. Saya membayangkan seandainya budaya ini diangkat menjadi budaya bangsa kita.. wah.. mungkin dalam waktu yang singkat kita menjadi bangsa yang maju.

Budaya korporasi tidak harus selalu diterapkan di sebuah perusahaan yang berorientasi profit saja, tetapi juga organisasi-organisasi yang lain. Contoh di atas hanyalah sebagian kecil dari contoh penerapan budaya korporasi saja. Bagaimana dengan budaya yang ada di lingkungan kita? keluarga kita? Atau lingkungan tempat kita bekerja??

ITI dan Perguruan Tinggi Indonesia

Pada tahun 1951, atas dasar keyakinan dan keteguhannya Perdana Menteri India saat itu Jawarlal Nehru mendirikan Institut Teknologi India (ITI), dengan semangat yang teguh, sarana pra sarana yang sederhana, dan input perguruan tinggi dengan kemampuan di bawah rata-rata. Setelah 55 tahun berdiri lulusan ITI tersebar di sebagian besar Negara-negara di benua Eropa, lulusan ITI memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan lulusan-lulusan perguruan tinggi eropa, dan India menjadi sebuah produsen ilmuwan yang berbakat dan ahli di bidang ilmu computer dan perangkat lunak di seluruh dunia, bahkan konon kabarnya untuk masuk ke ITI jauh lebih susah dibanding masuk ke Harvard atau Massachusettes Institute of Technology.

Tentunya ITI dalam mengasilkan output yang berkualitas dan memiliki semangat kerja yang keras bukanlah terjadi begitu saja, ada sesuatu yang harus dibayar mahal di dalamnya, beberapa hal yang dapat kita ambil dari kisah sukses ITI dalam menghasilkan output yang bagus adalah :

  1. Input yang bagus bukanlah satu-satunya alasan untuk mendapatkan output yang bagus dari sebuah perguruan tinggi, tetapi yang perlu ditekankan disini adalah proses dan komitmen dari semua komponen perguruan tinggi tersebut. Apakah keputusan Jawaharlal Nehru untuk memutuskan bahwa titikberat pengembangan India pada saat itu adalah pendidikan merupakan sebuah kebetulan ataukah dengan pertimbangan yang matang dan pandangan jauh ke depan seorang Jawaharlal Nehru? terlepas dari itu pilihan Jawaharlal Nehru terhadap perguruan tinggi yang ia dirikan untuk concern ke teknologi adalah sesuatu yang tepat, sebab dia sadar bahwa teknologi merupakan bagian dari globalisasi yang tidak akan pernah bisa kita hindarkan
  2. ITI sadar bahwa yang pembangunan SDM dari sebuah perguruan tinggi jauh lebih berharga daripada pembangunan fisik perguruan tinggi tersebut, dan ITI yakin pembangunan SDM yang berhasil akan dengan sendirinya membawa dampak pada pembangunan fisik sebuah perguruan tinggi.
  3. Keterbukaan ITI untuk menerima masukan dan kerjasama dengan pihak-pihak di luar ITI adalah salah satu kunci sukses ITI, sebab dengan jaringan yang luas maka kemungkinan untuk belajar jauh lebih besar. Dan ITI sangat memperhatikan media-media yang menghubungkan institusinya dengan pihak luar (ex:saluran komunikasi dan informasi yang memadai).

Bagaimana dengan perguruan tinggi di Indonesia? Beberapa perguruan tinggi di Indonesia sudah dapat dikatakan berhasil dalam pengembangan institusi mereka, tetapi juga tidak sedikit perguruan tinggi yang masih mengedepankan pengembangan fisik daripada pengembangan SDM perguruan tinggi tersebut. Yang terpenting dari tiga hal di atas adalah komitmen dari seluruh komponen perguruan tinggi tersebut dalam membangun intitusi mereka, tidak lagi mengedepankan kepentingan pribadi atau golongan, tetapi kepentingan pendidikan Indonesia jauh lebih penting dari segalanya