Monday, June 18, 2007

Budaya, Kapitalisme dan Teknologi

Perkembangan Ilmu pengetahuan tidak akan pernah lepas dari perkembangan budaya dan kapitalisme, demikian juga perkembangan teknologi. Perkembagan teknologi di tiap negara tentu juga berbeda-beda, tiap negara memiliki budaya yang berbeda pula. Jepang adalah salah satu negara yang memiliki perkembangan teknologi yang sangat pesat, hal itu tidak lepas dari budaya mereka yang selalu berfikir dan bertindak cepat, inovasi-inovasi mereka pun sangat mempertimbangkan budaya mereka, lain halnya dengan Singapura, Singapura dinilai sebagai negara yang tegnologized (semua infrastruktur kotanya serba digital) tetapi Singapura adalah negara yang tingkat inovasinya sangat rendah, mereka terbiasa dimanja oleh pemerintah yang menyediakan semua fasilitas dan kemudahan bagi warganya, dan ironisnya kemudahan dan fasilitas yang serba digital tersebut bkn hasil dari inovasi mereka, melainkan mereka adopt dari negara lain.
Perkembangan teknologi juga tidak akan pernah lepas dari kapitalisme. beberapa tahun yang lalu Hutchinson (pengembang jaringan selular dari Eropa) mendapatkan licence untuk mengembangkan teknologi 3G di Indonesia, tetapi karena keterbatasan SDM dan infrastruktur yang tidak memadai, proyek tersebut tidak terlaksana, sampai pada akhirnya Exelcom mendapatkan ijin untuk mengembangkan 3G dan akhirnya Exelcom berhasil lounch produk tersebut karena ia lebih awal bergelut di dunia selular Indonesia, ia memiliki SDM dan Infrastruktur yang memadai, dengan mudah proyek itu terlaksana. Kapitalisme tidak berhenti sampai disitu, setelah Exelcom lounch 3G masyarakat masih belum banyak yang tahu bahwa teknologi ini sdh ada di Indonesia dan dapat dinikmati melalui layanan Exelcom. Celah inilah yang dimanfaatkan Telkomsel, selang beberapa waktu Telkomsel juga memiliki 3G yang sudah bisa diakses di seluruh Indonesia. untuk lounch produk mereka Telkomsel rela mengeluarkan dana yang cukup besar. Tidak sedikit dana yang mereka keluarkan untuk branding produk mereka yang baru, mereka sadar bahwa branding adalah bagian dari image building perusahaan mereka. Dan tidak sia-sia, masyrakat lebih mengenal Telkomsel sebagai pelopor 3G dibanding Exelcom.
Khas dari kapitalisme adalah siapa yang kuat dialah yang menang

Monday, June 4, 2007

Sate Pak Ahmad

Tiap kali pulang kuliah saya melintas di Jl.Darmawangsa, di sepanjang jalan tersebut terdapat satu-satunya warung sate yang sangat rame, mulai warung tersebut buka sampai tutup di tengah malam. timbul rasa penasaran ingin mencobanya, maka akhirnya saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan mencoba sate Pak Ahmad. Tidak ada yang istimewa dari warung tersebut, "pesan apa mas?" tanya salah satu pelayan tanpa senyum dan tidak ada keramahan tersirat di wajahnya, "sate ayam 10 biji mbak, tambah es teh" jawab saya dengan halus, dan pelayan pergi begitu saja. rasa penasaran masih menghinggapi benak saya, dan dalam hati saya masih bertanya-tanya apa yang sebetulnya membuat warung ini laris. setelah menunggu cukup lama akhirnya pesanan saya datang juga, saya berharap rasa nikmat sate tersebut adalah jawaban dari pertanyaan saya, tetapi apa yang saya dapat??? rasa sate juga tidak terlalu nikmat
Akhirnya saya pulang sambil berangan-angan dan sedikit berfikir faktor yang membuat sate tersebut rame :
Tempat strategis yang telah dipilih, memudahkan para penikmat sate untuk datang dan menikmati sajian yang ada
Dan yang paling vital adalah tidak adanya competitor yang memberikan persaingan, sehingga tidak ada upaya untuk selalu belajar dan memberikan yang terbaik
Competitor adalah trigger handal untuk memicu sebuah bisnis menjadi lebih baik