Friday, December 21, 2007

Qurban dan Derajat Keimanan

Idul Adha selalu identik dengan sebuah pengorbanan. Dalam bulan ini ada dua peristiwa besar sebagai simbol sebuah pengorbanan sebagai upaya peningkatan Iman. Dua peristiwa besar tersebut adalah haji dan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail Alaihimas Salam. Haji bukanlah peristiwa mudah yang setiap orang dapat melaksanakannya, haji hanyalah sebagai media pencapaian kesempurnaan Iman. Materi yang cukup besar, menahan hawa nafsu pada saat ihrom, serta fisik yang prima adalah bentuk pengorbanan yang harus ada dalam pelaksanaan ibadah haji. Peristiwa yang kedua adalah perintah penyembelihan Nabi Ismail oleh Nabi Ibrahim. Sekian lama Nabi Ibrahim menunggu kehadiran seorang putera yang diharapkan menjadi pewaris beliau. Pada akhirnya keinginan itu terkabul juga, melalui rahim Siti Hajar lahirlah Nabi Ismail AS. Setelah sekian lama mereka hidup berdua, turunlah perintah penyembelihan Ismail dari Allah. Tentu hal itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan, tetapi Nabi Ibrahim melaksanakannya dengan lapang dada, sekalipun terasa berat. Dan Nabi Ismail pun rela dan ikhlas menerima apapun yang diperintah Nabi Ibrahim.
Dari dua peristiwa ini ada 2 hal yang dapat kita ambil hikmah :
  1. Setiap derajat keimanan akan bergantung pada sejauh mana pengorbanan yang kita persembahkan kepada Allah. bukan daging yang terpotong-potong, bukan darah yang mengalir dan bukan bulu yang beterbangan dari hewan yang kita kurbankan, tetapi upaya kita untuk menghilangkan sifat kehewanan yang ada pada diri kita lah yang Allah akan nilai. Bagi sebagian kita yang saat ini belum bisa mengurbankan hewan ternak janganlah berkecil hati, Allah maha tahu apa yang ada dalam hati kita.
  2. Setiap orang tua ingin menjadi kebanggan putera-puteranya, dan sebaliknya. Seorang anak akan bangga kepada orang tuanya saat mereka tahu bahwa makanan yang mereka makan berasal dari rejeki yang halal, bukan dari materi yang berlebih. kebanggan anak kepada orang tua adalah saat mereka tahu bahwa orang tua mereka mampu menjadi teladan bagi putera-puteranya. kebanggan anak kepada orang tua mereka adalah saat mereka sadar bahwa orang tua mereka tidak hanya dikenal oleh orang-orang di dunia, melainkan juga dikenal oleh Allah dan malaikat-malaikat. Dan Nabi Ibrahim mampu menjadi orang tua yang menjadi kebanggaan puteranya. Dan sebaliknya, orang tua akan bangga kepada putera-puteranya saat mereka mengetahui putera-puteranya bisa memberi manfaat kepada orang-orang di sekitarnya, dan mereka akan lebih bangga lagi saat mereka yakin bahwa putera-puteranya bisa menjadi jariyah mereka kelak di akhirat. Dan Nabi Ismail mampu menjadi kebanggan Nabi Ibrahim.