Friday, April 25, 2008

Pilkada dan Atribut Keagamaan





Suksesnya pasangan Hade (Ahmad Heryawan-Dede Yusuf) yang notabene Ahmad sebagai pendakwah sebagai Gubernur terpilih Jawa Barat, terpilihnya Fernando Lugo sebagai presiden Paraguay yang juga seorang pemuka agama, dan beberapa kepala daerah di beberapa kabupaten, kotamadya bahkan tingkat propinsi yang berlatar belakang agama, seakan memperkuat anggapan agama menjadi senjata ampuh bagi para calon pemimpin daerah untuk menarik simpati masyarakat.
Mereka yang paham agama selalu dicitrakan sebagai sosok yang bersih dan jauh dari kesalahan. Maka tidak aneh apabila tim sukses di beberapa pilkada berlomba-lomba mencitrakan calonnya sebagai sosok yang "beragama" dengan atribut-atribut tertentu, seperti dipasangnya gelar haji, digunakannya simbol-simbol agama dalam media kampanye. Dalam konteks komunikasi, keefektifan sebuah pesan juga ditentukan oleh persamaan frame (pengetahuan, tingkat pendidikan, agama) antara penyampai pesan dan khalayak, dalam hal ini calon pemimpin daerah dan masyarakat. Sebagaimana kita ketahui bahwa sebagian besar penduduk Indonesia adalah muslim, terutama di Jawa. Potensi inilah yang dimanfaatkan oleh para tim sukses calon pilkada.
Apapun cara yang dilakukan untuk mencari simpati masyarakat, yang terpenting adalah bagaimana mereka mempertanggungjawabkan kepada Allah atas atribut-atribut yang telah mereka gunakan. Mudah-mudahan apa yang mereka lakukan benar-benar berdasar agama, tidak semata-mata meminjam atribut keagamaan.

Sunday, April 6, 2008

Wisata Religi di Rumah Sakit

Saat Allah memberi cobaan sakit kepada hamba-Nya, maka saat itulah Allah menginginkan adanya perubahan iman yang lebih baik dari hamba tersebut. Tetapi tidak hanya itu. Allah juga menginginkan perubahan pada kelurga, orang-orang terdekat, serta mereka yang berada di sekitar hamba yang sakit tersebut. Beberapa hari lalu saya menjenguk adik teman saya di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya, sebut saja Noer, gadis berusia 23 tahun tersebut mengalami pengapuran otak sejak beberapa tahun yang lalu, sehingga dibutuhkan perawatan intensif di rumah sakit, tentu semua itu butuh biaya yang tidak sedikit. Noer ditempatkan di rawat inap syaraf. Di kamar yang berukuran kurang lebih 3X3 meter dan berisikan 6 orang tersebut, Noer dikumpulkan dengan pasien syaraf lain yang memiliki penyakit beragam, semuanya penyakit syaraf. Ada diantaranya yang hilang ingatan, ada yang sering mengigau, dan berbagai macam penyakit syaraf. Beruntung Noer punya tetangga sekitar dan kepala RT yang peduli terhadap nasibnya, sehingga beban biaya yang besar sedikit teringankan oleh bantuan tetangga-tetangga di sekitarnya. Sejak sakit Noer sulit mengontrol gerak tubuhya, sehingga terkadang dia melakukan aktifitas-aktifitas diluar kesadarannya. Dan tidak hanya itu, Noer juga seringkali lupa orang-orang disekitarnya.

Kalau kita renungkan musibah tersebut, timbul pertanyaan mengapa Allah memberi musibah kepada Noer, yang untuk makan sehari-hari saja masih berfikir apa yang bisa dimakan, apalagi berfikir pengobatan mahal. Pasti Allah memiliki kehendak dibalik semua ini. Allah sangat sayang dengan keluarga Noer sehingga Allah ingin keluarganya semakin dekat kepada Nya, Allah ingin keluarga Noer menjerit di tengah malam dan memohon kasih dan rahmat-Nya. Maha besar Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang. Dengan penyakit yang diderita Noer, seakan Allah ingin berpesan beberapa hal :

  1. Apapun yang Allah kehendaki dapat dengan mudah Allah wujudkan, kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja Allah tidak pandang bulu.
  2. Apa yang kita miliki semata-mata hanyalah titipan dan cobaan Allah, tergantung bagaimana kita mamanfaatkannya. Janganlah sombong, sebab apa yang kita raih saat ini tidak akan ada tanpa sentuhan Nya. Syukurilah dan manfaatkan sebaik-baiknya. Sebaik-baik hamba adalah mereka yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.


Mudah-mudahan kita dijadikan oleh Allah hamba yang peka terhadap apa yang terjadi disekitar kita.