Wednesday, November 12, 2008

Syekh Puji Kawin Terusss.....


Belakangan ini pernikahan syeh puji dan Ulfah (gadis berusia 12 tahun) menjadi isu panas di beberapa media. Bahkan Sejak marak diberitakan pernikahan syeh puji dengan ulfah, timbul banyak pendapat mengenai pernikahan anak gadis di bawah umur. Secara agama sebetulnya anak di bawah umur itu sejak umur berapa sih?12 tahun?13 tahun?atau bahkan 17 tahun. Sedang menurut negara, anak di bawah umur adalah mereka yang belum genap 17 tahun. Tentunya penetapan itu bukan tanpa dasar. Di dalam agama, seseorang yang diizinkan menikah adalah mereka yang cukup umur (tidak disebutkan usia tertentu), seiman dan sehat jasmani rohani. Bahkan menurut Nabi untuk menikahi seseorang setidaknya ada 4 pertimbangan yang harus diperhatikan : pertama adalah agamanya (diiniha). Apakah calon pengantin memiliki dasar agama yang kuat dalam membina rumah tangga, atau kalau itu belum mereka miliki, apakah ada keinginan untuk belajar agama bersama?.. kedua adalah sehat secara fisik (Jamaaliha), saling menerima secara fisik antara pihak laki dan perempuan apapun kondisinya harus saling menerima. ketiga adalah garis keturunan (nasabiha), apakah calon yang akan dinikahi berasal dari keturunan yang baik, atau berpotensi untuk menghasilkan keturunan yang baik? Yang keempat adalah hartanya (maaliha). Apakah ada kesamaan dalam menyikapi harta dan nikmat yang Allah telah berikan pada mereka nantinya, jangan sampai sang istri rajin bersedekah dan suami gemar berjudi. Seingat saya hanya itu saja syarat seseorang untuk menikah. Sehingga di bawah umur atau tidak menjadi sangat relatif

Ada beberapa alasan orang tua menikahkan anak mereka di usia dini :

  1. Sebagian mengizinkan putri mereka menikah dengan alasan menghindari perzinahan akibat bebasnya pergaulan anak muda saat ini. Sehingga, menikah adalah salah satu jalan keluar pilihan yang dianggap terbaik bagi mereka. Bagi orang tua jenis ini, tanggung jawab pada tuhan akan anak mereka jauh lebih penting dibandingkan kesuksesan duniawi yang tanpa diimbangi dengan kesuksesan ukhrowi dalam hal menjaga kehormatan keluarga dan pribadi. Dengan catatan pernikahan tersebut dilakukan tidak dengan paksaan.
  2. Jenis orang tua kedua yang rela menikahkan anaknya, karena pernikahan tersebut dilaksanakan bukan semata-mata karena untuk ibadah, tetapi pernikahan tersebut dilakukan dengan alasan dan kepentingan tertentu

Terlepas dari apa yang telah dilakukan syeh puji benar atau salah. Setidaknya kita bertanya, apakah sudah tepat apabila kita melihat kelayakan seseorang untuk menikah itu hanya dari usia mereka?

Alangkah bijaknya apabila kita melihat pernikahan di usia dini dari berbagai aspek. Kalau salah satu media nasional melakukan survey setuju atau tidaknya sebagian masyarakat akan pernikahan dini, apakah tidak sebaiknya juga dilakukan survey hubungan pernikahan di usia dini dengan angka aborsi yang setiap tahunnya terdapat 2,5 juta kasus penggururan janin di Indonesia.

No comments: